Pendakian Gunung Prau

Pendakian Gunung Prau

Tahun 2020 bisa dibilang cukup menyiksa untuk saya. Jika sebelumnya saat jenuh saya akan touring, hiking, atau sekedar camping untuk menghilangkan penat. Sejak triwulan 1 ini kita semua dipaksa untuk #diamdirumah. Tempat wisata ditutup, area pendakian ditutup, perjalanan lintas kota pun dibatasi. Beberapa pendakian dan acara outdoor yang sudah saya rencanakan gagal.

Tulisan ini saya tulis karena rindu liburan di alam bebas, khususnya mendaki gunung. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman pendakian ke Gunung Prau.

Sekilas Tentang Gunung Prau

Kata orang, Gunung Prau punya view golden sunrise dan lautan awan yang menakjubkan meskipun dengan waktu tempuh ke puncak yang relatif singkat (bisa dicapai dalam waktu 3 jam saja). Tak heran jika Gunung Prau semakin populer di kalangan para pendaki pemula dan para pemburu foto.

Gunung Prau terletak di antara 3 kabupaten yaitu Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Kendal, dan Kabupaten Batang. Masih termasuk ke Dataran Tinggi Dieng. Memiliki ketinggiannya 2.565 meter dari permukaan laut. Pendakian ke Prau punya 4 jalur utama yaitu jalur Dieng, Patak Banteng, Pranten dan Kendal. Saat itu kami memilih jalur Patak Banteng.

Pendakian kali ini saya cukup beruntung karena diajak oleh Arif, teman saya dari bjb Sumedang yang berencana naik bersama teman-temannya. Menjelang hari H peserta berguguran dan tersisa orang, yaitu saya, Arif alias Aleuy, Riyad alias A Icad (leader) dan Maydina alias May (satu-satunya cewek dalam pendakian kali ini).

Persiapan

Perjalanan dimulai Jumat sore tanggal 2 Agustus 2019 dari Cileunyi- Sumedang dengan Bis Budiman ke Terminal Wonosobo. Merasa perjalanan saya lebih panjang karena dari Majalengka, saya putuskan untuk cuti tgl 2 agar bisa packing dengan santai dan 5 Agustus untuk recovery.

Jumat sore saya titip motor di bjb Sumedang dan berangkat duluan untuk memastikan tiket aman. Tiket sudah dipesan sebenarnya, hanya antisipasi barangkali harus konfirmasi karena kami tidak naik dari terminal melainkan dari pool Cileunyi. Setelah dipastikan tiket aman, tak lama kemudian teman-teman yang lain sampai dan bis berangkat jam 19.00.

Bis sampai di Terminal Wonosobo jam 03.00. Setelah salat subuh perjalanan dilanjut dengan micro bus menuju basecamp Patak Banteng. Keadaan basecamp saat itu penuh dengan pera pendaki karena memang bulan Agustus adalah waktu terbaik untuk melihat sunrise. Meskipun di basecamp udara dingin begitu menusuk kulit, di puncak diperkirakan panas sehingga kami memulai perjalanan setelah dzuhur.

Basecamp (Patak Banteng) – Pos 1 Sikut Dewo – 45 menit

Setelah Icad dan Aleuy mengurus Simaksi, perjalanan dimulai. Perjalanan disambut dengan anak tangga dan susunan batu yang curam. Kombinasi antara saya yang sudah lama tidak berolahraga dan sudut kemiringan jalan batu yang curam membuat saya cukup ngos-ngosan. Jalan berbatu memang lebih menyebalkan dari pada tanah. Saya lihat masih banyak motor yang lalu lalang ke pos 1 menarik penumpang, entah berapa tarifnya, yang jelas saya salut kepada mas-mas yang mengendarainya. Dengan sudut kemiringan seperti itu masih bisa bawa penumpang dan cariernya dengan stabil.

Pos 1 ditandai dengan berakhirnya jalan batu. Pendaki yang naik ojek pun diturunkan di sana karena itu jarak maksimal yang bisa dijangkau motor. Di sisi kanan ada penunjuk arah yang mengarahkan kita pada bangunan Pos 1. Bangunan Pos 1 berbentuk warung semi permanen yang menjual makanan seperti gorengan, minuman, makanan ringan. Kami hanya beristirahat sekitar 10 menit disitu.

Pos 1- Pos 2 Canggal Walangan – 45 menit

Dari pos 1 langkah mulai nyaman karena trek sudah full tanah. Hanya saja kemiringannya masih tetap curam. Ditambah dengan debu yang disebabkan oleh pendaki yang turun. Beberapa kali pendaki yang turun mengalah mengurangi kecepatan jalan mereka saat berpapasan dengan saya. “Semangat bang,” seru mereka. Maklum saja, memang pendakian sedang ramai dan jalurnya sempit.

Di sisi kanan dan kiri terlihat didominasi oleh sayuran. Di sisi kiri pun masih ditemukan beberapa warung yang menjual semangka dingin. Lumayan untuk menghilangkan dahaga. Pos 2 ditandai dengan disambutnya kita oleh kawasan hutan. Sampai di titik ini keringat mulai bercucuran dan saya mulai menegak minum dalam jumlah banyak.

Pos 2 – Pos 3 Cacingan – 45 menit

Dari pos 2, perjalanan tertutup oleh rindangnya pepohonan. Hanya saja harus berhati-hati karena kita berjalan di antara akar-akar pohon besar sehingga rawan tersandung.

Pos 3 – Puncak – 45 menit

Dari pos 3 perjalanan diawali dengan adanya anak tangga dari tembok dan batu. Kami berfikir bagaimana naikin pasir dan semennya ini? Salut lah.

Sehabis anka tangga, tanjakan semakin menggila. Akhirnya saya tahu kenapa pendakian ke Prau itu sangat singkat, karena memang kita dipaksa untuk menanjak curam sedari awal, apalagi mulai dari pos 3 ini. Kedua tangan mulai aktif meraih akar atau dahan pohon di atas untuk mensupport langkah kaki.

Ada yang menarik menjelang sampai di puncak, ada tempat yang namanya Plawangan – Zona Signal. Setelah kami cek ternyata memang batas sinyal hanya sampai situ. Berjalan 5 meter saja ke arah puncak, sinyal langsung hilang. Jadi kalau mau ngabarin orang di rumah atau update status, diam dulu di situ.

Sesampainya di puncak, kondisi sudah seperti pasar. Lokasi strategis sudah penuh sehingga terpaksa kami agak mundur 2-3 baris ke belakang. Itu pun dengan permukaan tanah yang agak miring. Hari sudah mulai gelap dan berkabut saat itu sehingga kami memutuskan untuk masak dan istirahat di tenda.

Malamnya saya terbangun karena mengigil efek udara dingin. Jaket 2 lapis dan sleeping bag pun gak ngaruh. Maklum sleeping bag murah. May yang tidur di tenda sebelah aman-aman aja kalo sleeping bagnya bagus. Hehe. Saat itu pukul 11 malam dan suhu sudah di angka 5 C. Ini suhu terdingin yang pernah saya rasakan di gunung. Akhirnya saya masak susu jahe dan mencoba berjalan-jalan sekitar tenda untuk menghangatkan tubuh.

Jam 3 dini hari saya terbangun lagi. Aleuy juga terbangun karena kedinginan. Entah berapa suhu saat itu. Akhirnya kami putuskan untuk keluar tenda saja sambil menunggu sunrise. Karena berdiam diri saja malah semakin membuat badan menggigil. Saya lihat di luar juga banyak yang nongkrong. Juga banyak tenda baru yang didirikan, entah mereka sampai jam berapa di puncak. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Akhirnya saya percaya kalau sunrise Gunung Prau memang menakjubkan.

Nunggu sunrise. Penuh, udah kaya di pasar.
Lautan awan
Dari kiri: Saya, May, Icad, Aleuy
Sebelum pulang foto dulu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *