Pendakian Gunung Tampomas

Pendakian Gunung Tampomas

Gunung Tampomas adalah gunung berapi di sebelah utara Kabupaten Sumedang dengan ketinggian 1684 mdpl. Termasuk jenis stratovolcano yang puncaknya mengerucut. Menurut legenda, Gunung Tampomas yang kala itu bernama Gunung Gede hampir meletus dan sering menyebabkan gempa yang membuat warga di sekitarnya resah. Pangeran Sumedang yang saat itu menjabat, terus-menerus berpikir bagaimana caranya untuk mengatasi keresahan warga. Sampai akhirnya ia bersemedi, lalu bermimpi bertemu kakek tua yang berpesan untuk datang ke kawah dan menancapkan keris pusakanya, Kujang Emas. Setelah keris ditancapkan, gempa pun berhenti dan Gunung Gede tidak jadi meletus. Setelah itu gunung tersebut mengeluarkan air panas yang mengalir ke kawasan Conggeang dan sekitarnya. Sejak saat itulah namanya Gunung Tampomas (diambil dari perkataan “tanpa kujang emas akan meletus”). Atau menurut versi orang Indramayu, Tampo Mas berarti “menerima emas” karena untuk menghentikan letusannya harus menancapkan pusaka dari emas. Gunung Tampomas juga disebut-sebut dalam Naskah Bujangga Manik di abad ke-15 sebagai Gunung Tompo Omas (Gunung Tampah Emas, Jw.: tompo, tampah, tetampah).

Gunung Tampomas

Gunung ini adalah pemandangan di setiap saya bangun dan membuka jendela di pagi hari. Jika  saya pergi ke setiap sudut kota Sumedang pun akan selalu terlihat gunung Tampomas. Jadi selalu membayangkan bagaimana keadaan di atas sana? Ingin rasanya naik ke puncaknya.

Ayah saya sering bercerita bagaimana indahnya di atas sana. Tak terhitung sudah berapa kali ia ke sana saat masih muda. Naik gunung mungkin bukan hal yang baru bagi keluarga kami. Saat saya kecil, kami sekeluarga biasa berkebun di bukit dekat rumah di hari Minggu. Berangkat pagi dan pulang menjelang sore. Ayah saya bilang naik gunung tidak bisa disamakan dengan olahraga lain. Ini tentang daya tahan (endurance) dalam perjalanan yang panjang, bukan kekuatan (strength). Jadi meskipun saya jarang berolah raga, bukan berarti saya tidak akan kuat ke puncak Tampomas. Tentu saja saya bertambah semangat setelah mendengarnya. Sayangnya sudah berkali-kali ia mengajak, namun belum ada waktu yang pas.

Keinginan saya baru terlaksana saat SMA di 18 Agustus 2007. Sebelas tahun sebelum tulisan ini saya buat. Jadi mohon maaf kalau ada ketidaksesuaian peristiwa atau hal lainnya. Saya hanya mencoba menggunakan blog ini sesuai fungsinya, yaitu “pengingat” di masa depan nanti. Karena ingatan manusia ada batasnya, ‘kan?

Saya bersama 5 teman sekelas berencana naik ke Gunung Tampomas. Dua orang sudah pernah naik yaitu Ahmad dan Ridwan. Sedangkan saya, Aries, Luky, dan Dwi belum pernah naik. Perjalanan kami pulang-pergi agar tidak perlu membawa banyak barang termasuk tenda. Kami hanya membawa masing-masing 2 botol besar air, cemilan yang manis-manis, obat-obatan, dan barang-barang pribadi. Aries bertugas menyiapkan nasi timbel yang kami bawa secara bergantian. Perjalanan ke puncak Tampomas memakan waktu 4 jam. Jika kita berangkat pagi, maka sore sudah bisa pulang.

Tampomas sendiri punya 2 jalur utama untuk mencapai puncak. Pertama, jalur Cibeureum-Kec. Cimalaka yaitu jalur yang kami pilih karena mayoritas kami datang dari selatan. Kedua, jalur Narimbang-Kec. Conggeang yang akan kami gunakan untuk jalur pulang nanti. Adapula jalur lain yaitu Padayungan dan Karangbungur tapi jarang dipakai.

 

Jalur Cibeureum: Pos 1 – Pos 4

Dari Sumedang kota, kami naik angkot ke arah Cimalaka lalu berhenti di Jalan Sedar/kawasan penggalian pasir Cibeureum. Lokasinya tak jauh dari Polsek Cimalaka. Pendakian dimulai pukul. 8.00. Jika beruntung, kita bisa bertemu dengan truk pasir dan izin menumpang sampai ke titik penggalian pasir. Lumayan lah menghemat tenaga. Hehe

Jalur Cibeureum tak sepopuler jalur Narimbang karena lebih curam, tapi lebih cepat. Perjalanan diawali dengan melewati jalan aspal kasar di antara lembah penggalian pasir.

Penggalian Pasir Gunung Tampomas
Hiburan dulu biar ga cape 😀

Setelah itu kita akan melewati TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sumedang. Pakailah masker untuk mengurangi bau sampah yang menyengat. Gunakan pula sarung tangan karena kita menyembrangi padang ilalang yang tinggi.

TPA
Padang Ilalang

Selanjutnya kita akan melewati hutan pinus.

Hutan Pinus

Jalur Cibeureum memiliki petunjuk arah yang jelas menuju puncak, kita menelusuri jalan setapak, asal kita tidak keluar jalur maka perjalanan akan aman. Semakin ke atas pepohonan semakin rimbun dan gelap.

Petunjuk ke Puncak

Jarak antar pos sekitar 30-45 menit tergantung kecepatan. Ada area yang cukup luas untuk beristirahat di setiap posnya. Pastikan saja air cukup karena tidak ada sumber air di Tampomas.

Di pos 4 ada persimpangan dengan jalur Narimbang. Kami datang dari kiri, sedangkan mereka yang naik dari Narimbang datang dari kanan. Cukup lama kami istirahat di sana. Areanya luas dan banyak orang yang turun dari puncak setelah kemarin upacara 17 Agustus 2007.

 

Pos 4 – Puncak (Sanghiang Taraje)

Banyak orang bilang kalau dari pos 4 menuju puncak adalah trek terberat dalam pendakian Tampomas. Jalurnya didominasi bebatuan licin, tanjakannya sangat curam sampai harus memanjat dengan bantuan kedua tangan. Tak heran kalau puncaknya bernama Sanghiang Taraje karena jalurnya nyaris vertikal. Stamina kami banyak terkuras di sana.

Pemandangan dari Sanghiang Taraje. Sumedang sudah mulai terlihat meski belum sampai puncak.

Antara pos 5 dan 6 kita akan melewati kawah Tampomas. Tidak seperti kawah pada umumnya yang ada di puncak gunung, kawah Tampomas berupa retakan besar yang menganga. Saya tidak bisa melihat dasarnya sehingga saya simpulkan kalau kawah itu dalam sekali. Hati-hati saja saat melewatinya karena retakan lainnya banyak terdapat di sekitar situ dengan ukuran yang lebih kecil. Sementara jalanan makin atas makin sempit. Kita berjalan di sela bebatuan besar dan rimbunnya semak.

Akhirnya, sekitar jam 12.00 kami sampai di puncak. Alhamdulillah.

 

Puncak Tampomas
Puncak Tampomas, 18 Agustus 2007. Dari kiri ke kanan: Aries, Luky, Dwi, Ahmad, Ridwan, Saya

 

Perjalanan sesuai perkiraan, yaitu sekitar 4 jam. Hal yang kami lakukan pertama kali adalah berfoto ria pastinya. Hahaha. Dengan kamera HP Sony Ericsson K750i, terbaik pada masanya. Jangan harap bisa update status karena tidak akan ada sinyal dari provider apapun. Waktu di puncak kami habiskan dengan makan siang dan berkeliling area puncak. Puncak Tampomas memiliki total luas sekitar 1 hektare. Didominasi oleh bebatuan besar dan berundak-undak sehingga jika di tengah penuh, kita harus mendirikan tenda di sela bebatuan dan semak. Saat itu hanya ada 1 rombongan lain selain kami, jadi sangat leluasa untuk memilih tempat beristirahat.

Di sebelah utara ada komplek pemakaman yang dinamakan Pasarean, berarti tempat sare (tidur). Diyakini merupakan makam Prabu Siliwangi dan Dalem Samaji. Benar atau tidaknya situs tersebut makam atau hanya petilasan, masyarakat setempat sering berziarah ke tempat tersebut. Saya tidak berkeliling ke sana karena tak cukup nyali :p

Sisa waktu kami pakai untuk tidur siang dan mengobrol ngalor ngidul. Makanan sengaja kami habiskan agar perjalanan pulang terasa ringan, hanya menyisakan air secukupnya.

 

Perjalanan pulang via Jalur Narimbang

Jam 14.00 kami putuskan untuk pulang agar tidak kemalaman. Jalur Narimbang memiliki trek yang lebih bersahabat. Kami sampai di pos awal Narimbang jam 16.00. Basecampnya lebih terkelola dengan baik. Ada mushola, pemandian, penginapan, dan banyak warung.

Selepas mandi dan salat, karena masih siang, kami sempatkan naik sedikit ke Curug Narimbang/Curug Ciputrawangi tak jauh dari situ. Setelah puas bermain air, barulah kami pulang dan sampai di rumah jam 20.00.

Curug Narimbang/Ciputrawangi

Itulah pengalaman saya naik ke Gunung Tampomas. Tiga tahun berturut-turut kelas kami rutin naik ke Tampomas setiap bulan Agustus dengan personil yang berbeda-beda. Kami tak pernah berkemah di atas. Jika kemalaman biasanya kami menginap di rumah Ridwan, kebetulan rumahnya di kaki gunung Tampomas, tepatnya Kec. Buah Dua.

Mendaki Gunung Tampomas memang sangat menyenangkan. Rencanakan pendakian baik-baik jika akan naik ke Gunung Tampomas. Bawalah logistik yang cukup, terutama air. Pastikan kita telah daftar di pos awal.Tetaplah berhati-hati saat mendaki. Tetap jaga kelestarian alam. Jangan merusak lingkungan. Bawa kembali sampah plastik ke bawah.

Dan yang paling penting. Jangan jadi fotografer karena akan sangat jarang ada di foto (Sorry Wan 😀 )

Meskipun kini isu penggalian pasir di kaki Gunung Tampomas sudah sangat masif, semoga kelak saya bisa mendaki ke sana lagi. Mungkin dengan menyempatkan untuk berkemah juga di puncaknya.

Selamat mendaki.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *