22 Years of Friendship

22 Years of Friendship

“Apa kalian pacaran?”

Itu adalah pertanyaan yang paling sering dilontarkan kepada Rifky akhir-akhir ini. Bosan mendengarnya.

“Temenan doang.”

“Bullshit! Mana ada orang bolos kerja buat liat teman perempuannya sidang skripsi. Cirebon-Bandung jauh bos, naik motor pula. Mustahil temen doang.”

Rifky tertawa menanggapinya. Ia yang sudah bekerja di perusahaan swasta di Cirebon sengaja datang jauh-jauh untuk memberikan support kepada Fipit, teman perempuan yang sudah dikenal lebih dari separuh usianya. Fipit sedang sidang skripsi di Kampus UPI Bandung. Kebetulan Rifky bertemu teman lamanya di kampus tersebut.

“Demi temen lah,” jawab Rifky santai.

“Bulan kemarin gue sidang, lu ga bela-belain kesini.”

“Hahaha, beda lah bro.”

Pernyataan teman Rifky itu memang ada benarnya. Rifky tak bisa mengelak. Akhirnya ia hanya menanggapinya dengan tawa. Rifky tak mau membahas lagi pertanyaan temannya itu. Jujur saja, ia sendiri bingung dengan status hubungannya dengan Fipit. Mereka berteman, tapi tingkah keduanya menggambarkan hubungan yang lebih dari itu. Hal tersebut sudah berlangsung lama.

Kalau diingat lagi, mereka memang sudah lama saling mengenal.

Terlalu lama…

Rifky dan Fipit pertama kali bertemu di taman kanak-kanak. Saat itu mereka masuk sekolah taman kanak-kanak yang sama di Sumedang pada tahun 1996. Awalnya mereka tak begitu akrab. Hingga masuk ke sekolah dasar yang sama pun, Rifky tak mencoba untuk mengakrabkan diri meskipun mereka saling kenal dan berada di satu bangunan yang sama. Rifky memang jarang bergaul dengan perempuan sehingga berinteraksi dengan Fipit adalah hal yang terasa aneh untuknya.

Sekitar tahun 2000, keluarga Fipit pindah rumah ke dekat rumah Rifky, hanya berjarak 500 meter saja ke arah selatan. Sering sekali mereka secara kebetulan berangkat sekolah bersama meskipun tidak saling bertegur sapa. Keadaan itu berlangsung cukup lama hingga membuat Rifky terbiasa melihat kehadiran Fipit di dekatnya.

Menjelang kelulusan sekolah dasar, beredar kabar di teman-teman mereka kalau ternyata Fipit menyukai Rifky. Ah, cinta monyet, pikirnya saat itu. Perempuan memang lebih cepat dewasa dibanding laki-laki. Rifky tak terlalu peduli. Di saat yang sama dipikirannya hanya ada bermain kelereng dan tazos,  bukan cinta-cintaan. Sebenarnya ia cukup merasa risih dengan beredarnya kabar tersebut. Tapi toh sebentar lagi ia akan lulus dan masuk SMP. Jadi lebih baik cuek saja, seolah tak tahu.

Rifky masuk ke SMP 1 Sumedang pada tahun 2003 karena lokasinya paling dekat rumah. Murid yang lain kebanyakan masuk ke SMP 2, termasuk Fipit. Hari-hari selanjutnya berjalan begitu damai tanpa ribut-ribut gosip. Rifky bisa sekolah dan bermain tanpa ada ‘gangguan’ dari Fipit karena mereka beda sekolah. Kesibukan di SMP pun membuat mereka jarang bertemu. Rifky lulus SMP pada tahun 2005, satu tahun lebih cepat dari seharusnya karena ikut kelas akselerasi.

Rifky meneruskan sekolah ke SMA 1 Sumedang. Seiring waktu ia menjalani masa SMA, Rifky mulai sadar kalau ada sosok yang hilang dalam hari-harinya, sosok Fipit yang sudah lama tidak ia lihat selama 2 tahun ini. Aneh memang, padahal rumah mereka dekat. Tapi kenyataannya Fipit selalu terlihat sibuk sehingga mereka sangat jarang bertemu.

Sejak saat itu Rifky mulai mengamati jam berapa Fipit pulang ke rumah. Ternyata ia pulang sekitar jam 3 sore, sepertinya mampir dulu ke rumah saudaranya. Rumah Fipit lebih jauh sehingga mau tak mau, setiap pulang  akan lewat ke dekat rumah Rifky. Jadilah sejak saat itu pada jam 3 sore pandangan Rifky akan selalu tertuju pada jalur yang biasa dilalui Fipit. Entah itu saat sedang bermain, ataupun sedang ada di balkon lantai 2 rumahnya. Kalau begini ia seperti stalker yang mengamati Fipit terus-menerus. Kesenangan Rifky hilang saat Fipit hilang di persimpangan jalan. Ia hanya berharap bisa melihat Fipit lagi besok sore.

Kebiasaan aneh itu terus berlanjut. Orang mungkin menilai itu kegiatan yang buang-buang waktu, hanya untuk melihat orang lain dari kejauhan. Wajahnya saja tidak terlihat jelas. Namun ada rasa senang yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Seolah-olah Rifky menemukan kembali sosok yang hilang dari hidupnya.

Tahun 2006, tiba saatnya penerimaan siswa baru di SMA 1 Sumedang. Momen yang ditunggu bagi sebagian anak kelas 2 dan 3 untuk menonton, mencari target gebetan baru. Rifky pun terlihat melakukan hal yang sama, namun bedanya, Rifky bukan mencari gebetan, ia hanya sedang mencari dimana keberadaan temannya di antara ratusan siswa baru yang sedang berbaris di lapangan upacara. Ia yakin Fipit akan masuk ke sekolah yang sama. Tidak memerlukan waktu lama untuk mencarinya. Rifky menemukan sosok yang dicarinya, sosok yang familiar di otaknya. Menyenangkan sekali bisa melihat sosok yang selama ini dilihatnya dari kejauhan, kini berada sangat dekat dengannya.

Fipit telah tumbuh dewasa, rambutnya kini panjang terurai, wajahnya melancip tak lagi bulat seperti saat di sekolah dasar. Rifky jadi senyum-senyum sendiri melihat betapa 3 tahun ini telah membuat sosok mereka berbeda.

Rifky berpikir, melihat sosoknya saja kini tak lagi cukup, ia ingin memperbaiki hubungan mereka yang terkesan kaku di masa lalu. Mengobrol secara langsung atau meminta nomor HP-nya secara frontal kepada orangnya, dikhawatirkan membuat Fipit tak nyaman. Apalagi kesan cowok cuek sudah terlanjur melekat di sosok Rifky. Rifky akhirnya meminta nomor Fipit ke teman satu kelasnya. Tak sulit karena sebenarnya teman Fipit itu teman Rifky juga karena dulu mereka satu angkatan.

Malam itu, Rifky menyapa Fipit lewat SMS. Namun jawaban Fipit sangat jauh dari ekspektasinya.

“Rifky yang mana ya? Emang aku kenal kamu?” balas Fipit.

Oh, ingin rasanya Rifky membanting HP. Ia sudah memprediksi balasan Fipit akan ketus, namun tidak separah ini. Dengan bermodal kesabaran yang tersisa, Rifky mencoba menjelaskan siapa dirinya.

“Ini Rifky, temen SD kamu. Lupa?”

“Temen aku? Yang mana sih?”

“Astaga, rumah kita beda 5oo m. Jangan pura-pura ga tau deh,” balas Rifky mulai emosi.

“Owhh, Rifky itu…”

Belakangan diketahui kalau Fipit hanya memberi pelajaran kepada Rifky yang dulu cuek dan jutek kepadanya.

Tak butuh waktu lama sampai mereka dekat kembali karena pada dasarnya mereka sudah saling mengenal sejak lama. Setiap malam mereka akan mengobrol lewat SMS dan sesekali lewat telpon. Sering mereka mengobrol hingga larut malam, menceritakan saat-saat mereka jarang bertemu. Fipit mengaku kalau dulu dia sempat kesal kepada Rifky karena menjauhinya, sikap Rifky yang cuek membuatnya muak. Ia akhirnya berusaha melupakan Rifky sejak mereka berbeda sekolah. Sebaliknya, Rifky bicara blak-blakan pada Fipit kalau ia memang kesepian saat mereka jarang bertemu. Maklum saja, di blok tempat tinggal mereka, hanya mereka berdua yang sebaya. Remaja lainnya kurang klop diajak mengobrol karena usia mereka ada jauh di bawah atau di atas mereka.

Dari obrolan mereka, Rifky mendapatkan gambaran kalau Fipit yang sekarang tidak ekspresif seperti dulu. Dia sudah lebih kalem. Cara dirinya memaafkan Rifky juga jadi bukti kalau kini ia jadi lebih dewasa dan mudah memaafkan. Dia justru menertawai Rifky karena terlalu berpikir jauh dengan menyiapkan kata-kata panjang hanya untuk meminta maaf.

Di sore hari, Rifky pun sudah tak segan lagi untuk melambaikan tangannya ketika Fipit lewat di dekat rumahnya. Dari kejauhan, Fipit membalas lambaian tangannya.

Hari demi hari, mereka semakin dekat. Tepatnya, Rifky yang selalu berusaha ada di dekat Fipit. Matanya akan selalu menyisir sekitar kelas Fipit, melihat jika ada lelaki lain yang berusaha mendekatinya. Kelas Rifky berada berada di lantai 2, sedangkan Fipit di lantai 1 sehingga mudah melakukannya. Aneh memang. Padahal di saat yang sama Rifky sedang dekat dengan perempuan lain. Meskipun tetap saja saat ada 2 SMS yang masuk secara bersamaan, maka Fipit akan jadi prioritas pertama. SMSnya akan dibalas duluan, sedangkan SMS lain akan terlupakan. Rifky tak tahu apa yang mendorongnya untuk melakukan semua itu. Seolah semuanya terjadi tanpa terkendali.

Di tahun ketiga SMA, Rifky mulai khawatir kehilangan Fipit untuk kedua kalinya. Ia sudah diterima kuliah di UNIKOM Bandung, dan hanya punya waktu beberapa bulan lagi di SMA. Setelah ia kuliah di Bandung, tentu mereka akan jarang bertemu.

Rifky yakin perasaannya bukan sekedar peduli kepada seorang teman, melainkan lebih dari itu. Tepat sebelum kuliah di Bandung, Rifky menyatakan cintanya kepada Fipit.

Dan Fipit menolaknya mentah-mentah.

“Kamu tuh lebih enak jadi temen.”

Rifky merasa aneh. Jika benar dulu Fipit menyukainya, kenapa sekarang ia menolak? Padahal sekarang Rifky sudah siap. Apa rasa sukanya dulu hanya sebatas kagum saja ? Atau rasa suka sesaat yang hilang terkikis oleh kecuekan Rifky di masa lalu?

“Tapi aku ga mau cuma temen,” ujar Rifky keras kepala.

“Pacaran itu ada resiko putus, aku takut kita putus dan ga bisa temenan lagi,” jelasnya.

Butuh waktu berhari-hari untuk meyakinkan Fipit hingga akhirnya menyetujui juga mereka berpacaran.

Bagi Rifky, Fipit menjadi mood booster, penyemangatnya untuk pulang ke Sumedang. Ia nyaris pulang setiap minggu. Ia tak tahu kalau ia akan sangat merindukan gadis pujaannya itu padahal hanya berpisah seminggu, itupun setiap malam mereka selalu menghubungi lewat YM/telepon.

Berbulan-bulan hubungan mereka berjalan, namun Rifky mulai merasa ada yang tak beres. Ia mulai merasa jenuh.

Fipit tidak seperti yang ada di bayangannya. Gadis itu sangat sulit untuk diajak main keluar, tipikal anak rumahan. Tentu itu sangat bertolak belakang dengan Rifky. Ia berharap, setiap ia pulang ke Sumedang, Fipit mau menemaninya. Atau minimal diizinkan untuk berkunjung ke rumah. Tapi ia menolak dengan berbagai alasan.

Setelah berusaha cukup lama mempertahankan hubungan mereka, akhirnya Rifky menyerah dan memilih untuk berpisah. Untuk apa pacaran kalau bertemu saja susah? Rifky seolah berlari mengejar tanpa Fipit berusaha untuk melambat menunggunya.

Rifky tak tahu bagaimana perasaan Fipit tapi yang jelas ia merasa sedih hingga tak pulang berbulan-bulan ke Sumedang. Pulang ke Sumedang hanya akan mengingatkannya pada kenangan lama. Ia lebih memilih menyepi di kosan, nonton, main game, atau bermain bersama teman yang tidak pulang kampung.

Di sisi lain Fipit malah terlihat tidak peka pada keadaan, ia masih terus menghubungi via YM jika kebetulan sedang online di eBuddy. Saat mereka putus, mereka memang sempat berjanji untuk tidak saling menjauh, tetap menjaga hubungan pertemanan. Sayangnya praktek tidak semudah teori. Kenyataannya, melihat wajah Fipit di akun YM saja membuat Rifky sedih. Ia hanya akan menjawab singkat, seperlunya jika ada chat dari Fipit.

“Hai, lagi apa?”

“Lagi diem.”

Titik.

Obrolan akan berhenti sampai di situ jika Fipit tak mencari topik pembicaraan lain. Terlihat sekali ia berusaha membuka topik pembicaraan, tapi Rifky akan menjawabnya singkat. Obrolan bagai berjalan satu arah. Lama-kelamaan Fipit mulai jarang menghubungi karena pada dasarnya memulai topik adalah hal yang susah.

Butuh waktu lama untuk membuka hati kembali. Rifky baru bisa membuka hatinya saat tingkat 2 kuliah, ia berpacaran dengan gadis di Bandung pada tahun 2009. Seingatnya pada tahun yang sama Fipit juga sudah punya pacar lagi, teman sekolahnya dulu, yang kini kuliah di kampus yang sama. Kala itu sedang ngetrend jejaring social Facebook yang cocok dijadikan tempat memantau kehidupan orang.

Hubungan Rifky dengan pacarnya di Bandung tak bisa dikatakan bagus. Sering bertengkar dan berdebat hanya karena hal sepele hingga akhirnya harus diakhiri. Ada bagian dari diri Rifky yang selalu enggan untuk serius menjalin hubungan dengan perempuan lain. Bahkan setelah itu, beberapa kali ia berpacaran hanya untuk sebuah status. Pada akhirnya Rifky merasa lelah dan bersalah. Ia tak ingin terus-menerus menyakiti perempuan yang tak tahu apa-apa. Ia ingin fokus kuliah dulu hingga lulus. Apalagi tahun depan ia sudah harus menyusun skripsi.

Skripsi jadi tantangan puncak bagi setiap mahasiswa tingkat akhir. Apalagi jurusan Informatika UNIKOM yang terkenal gampang masuk, susah lulus. Ada titik dimana Rifky membutuhkan dukungan moril sebagai penyemangatnya mengerjakan skripsi. Ia terancam pending, tidak lulus tepat waktu. Ada bagian programnya yang sangat mustahil untuk diselesaikan meskipun ia sudah begadang berhari-hari.

Di saat-saat seperti itu, entah kenapa yang terpikirkan pertama kali adalah Fipit. Mereka tidak lost contact. Mereka hanya berusaha menjaga jarak dengan membatasi komunikasi.

Rifky bukan tipe orang yang terbuka sepenuhnya kepada keluarga soal kuliah. Membiayai kuliah saja sudah susah, rasanya tak perlu lagi orang tuanya dibebani dengan kabar kurang mengenakan. Untuk beberapa hal, Rifky memang lebih percaya kepada Fipit untuk berbagi suka dan duka.

Jangan salah paham.

Saat itu, Rifky mengharapkan Fipit sebagai teman untuk mengobrol, ia tak lagi mengharapkan lebih karena terbukti, mereka tidak cocok pacaran. Fipit mungkin tidak akan membantu skripsi secara teknis. Namun setidaknya secara moril, Fipit berhasil mendongkrak semangat Rifky hingga ia semangat lagi. Dan nyatanya itu berhasil. Perlahan tapi pasti Rifky bisa menyelesaikan skripsinya hingga lulus.

Itulah alasannya mengapa 1 tahun kemudian, Rifky rela menemani Fipit saat sidang skripsi. Jauh-jauh naik motor.

Sejak saat itu mereka seolah kembali ke titik awal pertemanan mereka. Rifky yang sudah bekerja di Bandung sering mampir ke kosan Fipit untuk makan malam bersama. Nasi goreng dekat kosan Fipit jadi menu rutin mereka. Terkadang Rifky mengajaknya makan di luar saat dapat bonus atau ada voucher makan gratis dari kantor. Rifky juga memberikan surprize kecil-kecilan saat ulang tahunnya yang ke-22. Atau menjemputnya saat pulang malam dari kantor. Hal-hal sederhana dan menyenangkan yang membuat mereka berdua tetap bersama.

Rifky dan Fipit seperti menemukan hubungan yang cocok untuk mereka jalani. Hubungan pertemanan yang terus bertahan lama bertahun-tahun dan tanpa mengenal jarak. Meski pun Rifky pindah bekerja ke Cirebon pada tahun 2014, lalu ke Majalengka pada tahun 2015. Fipit pun sudah bekerja di Sumedang pada tahun 2015 dan pindah ke Patrol, Indramayu pada tahun 2016.

Jauhnya jarak Sumedang-Patrol, membuat Fipit lebih senang diantar-jemput naik motor Rifky dibanding naik mobil umum. Waktu tempuh bisa dipangkas setengahnya karena melewati jalan alternatif. Jadilah mereka serasa touring setiap minggu, menempuh jarak ratusan kilometer hingga sekarang. Ini jelas kontras sekali jika dibandingkan dulu, yang bahkan diantar ke sekolah saja ogah-ogahan.

Kini Rifky sudah lupa berapa lama waktu yang mereka habiskan bersama, berapa tempat yang sudah mereka kunjungi, berapa banyak kenangan yang sudah mereka lalui bersama.

Seiring umur yang bertambah, Rifky sering memikirkan masa depannya. Bagaimana kehidupannya 3 tahun lagi, 5 tahun lagi, dan 10 tahun lagi? Dengan siapa ia akan mengisi hari-harinya? Apa ia bahagia?

Perlahan tapi pasti, pertanyaan itu terjawab dengan perubahan sikap Fipit kepada Rifky. Hari demi hari sikapnya berubah seperti seorang pacar, baik dari segi verbal maupun tingkah laku. Panggilan sayang yang sering digunakan di masa lalu pun kembali muncul. Padahal mereka sama-sama tahu hubungan mereka hanya sebatas ‘teman’. Tidak pernah ada kata ‘pacaran’ atau ‘balikan’. Tidak ada kata ‘aku sayang kamu’ atau ‘aku cinta padamu’.

Begitupun dengan komitmen yang lebih jauh, tidak ada kata ‘Maukah kau menikah denganku?’, tapi tanpa itupun mereka sudah tahu sedang berlabuh ke arah yang sama. Mereka sudah sering mengobrol tentang masa depan, masalah finansial, masalah cita-cita, hal-hal yang lumrah diobrolkan oleh seorang pasangan  yang berencana menikah. Jadi, rasanya sudah tak perlu lagi penegasan dengan kata-kata hanya untuk membuktikan rasa sayang.

Mereka sudah bukan lagi usia anak SMA yang harus selalu mengungkapkan cinta dengan ucapan. Mereka lebih suka menunjukkannya dengan perbuatan. Gaya berhubungan mereka sudah berevolusi ke bentuk yang berbeda. Tapi nyatanya mereka lebih suka yang seperti ini.

Mereka saling menjaga, mendukung, dan saling mempercayai. Satu yang pasti, mereka memang saling menyayangi… dari dulu.

Begitulah kisah mereka. Tak pernah banyak kalimat ungkapan kasih sayang yang terlontar dari mulut mereka, mereka lebih banyak mengungkapkannya dengan tindakan. 1996-2018. Dua puluh dua tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk mengenal satu sama lain. Tanggal 5 Mei 2018 mereka memutuskan untuk menikah. Rifky sudah yakin pada keputusannya. Jika ia memejamkan matanya dan membayangkan masa depannya, sosok yang selalu terbayang adalah Fipit, dan juga berbagai kebahagiaan yang mengikutinya. Dengan menikah, mereka akan selalu menjadi teman hidup untuk selamanya.

 

The End

 

Untuk temanku, yang sebentar lagi jadi istriku, Fipit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *